Armada AS Dikirim ke Iran, Trump Harap Negosiasi

Presiden Donald Trump mengumumkan pada hari Rabu bahwa “armada besar” sedang bergerak menuju Iran, sambil mengungkapkan harapan agar Tehran mau “datang ke meja perundingan” untuk mengadakan negosiasi dengan Washington.

“Armada besar sedang menuju Iran. Armada ini bergerak cepat, dengan kekuatan, antusiasme, dan tujuan yang besar,” tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social.

Trump menyatakan bahwa armada tersebut lebih besar daripada yang sebelumnya dikirim ke Venezuela dan siap untuk “dengan cepat menyelesaikan misinya dengan kecepatan dan kekerasan, jika perlu.”

“Semoga Iran segera ‘datang ke meja perundingan’ dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan seimbang—tanpa senjata nuklir—kesepakatan yang baik untuk semua pihak. Waktu hampir habis, ini benar-benar sangat penting!” katanya.

Trump menambahkan, “Seperti yang pernah saya katakan kepada Iran sebelumnya, buatlah kesepakatan! Mereka tidak melakukannya, dan terjadilah ‘Operasi Midnight Hammer,’ penghancuran besar-besaran di Iran. Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk! Jangan sampai itu terjadi lagi.”

Protes ekonomi yang terjadi di kota-kota Iran mendorong Trump untuk mengingatkan kemungkinan intervensi AS jika pemerintah Iran terus menggunakan kekerasan mematikan terhadap para pengunjuk rasa yang menurutnya “damai.”

Setelah bersikap tegas, Trump kemudian melunakkan nada bicaranya dengan mengatakan, berdasarkan “sumber yang dapat dipercaya,” bahwa pembunuhan terhadap para pengunjuk rasa telah berhenti dan Tehran membatalkan rencana eksekusi massal.

Pejabat Iran memperingatkan bahwa serangan AS akan direspons dengan tindakan yang “cepat dan komprehensif.”

Saat berbicara di Iowa, AS, Trump menyinggung adanya armada “indah” lain yang juga sedang menuju Iran saat ini.

“Jadi, kita lihat saja. Saya harap mereka membuat kesepakatan. Seharusnya mereka membuat kesepakatan sejak awal. Mereka akan memiliki sebuah negara,” katanya kepada para pendukungnya.

Iran konsisten dalam pernyataannya untuk tidak terlibat dalam pembicaraan di bawah tekanan, sementara pejabat AS menunjukkan keterbukaan bersyarat untuk berdiplomasi.

Dengan demikian, kemungkinan negosiasi dalam waktu dekat tetaplah tidak pasti.